Rating Penonton dan Rating Kritikus, Mana yang Lebih Kamu Percaya?

0
72

Halo gengs! Apa kamu salah satu orang yang agak pilih-pilih atau selektif mencari judul film sebelum menontonnya? Kalau iya, rating pasti jadi salah satu pertimbanganmu untuk memilih judul film. Situs IMDB dan Rotten Tomatoes jadi platform terpopuler untuk melihat rating dan review film. Tapi ada hal yang kadang bikin bimbang atau setidaknya bikin kita bertanya-tanya. Rating penonton dan rating kritikus tidak jarang memiliki angka yang tidak sejalan. Tidak sedikit film yang mendapat rating buruk dari kritikus tapi penonton menyukainya, atau sebaliknya.

Di sini saya akan sedikit mengulas mengapa hal demikian bisa terjadi. Bagaimana kritikus menilai sebuah film dan apa bedanya penilaian mereka dengan penilaian orang awam.

Ada satu buku yang membahas tentang kritikus, The Season yang ditulis oleh William Goldman. Meski tentang kritik teater, hal ini juga mencakup kritikus film. Kritikus menonton semua film, semua genre film. Itu adalah pekerjaan mereka. Tentu saja menonton begitu banyak film membuat mereka letih dan bosan pada bagian-bagian yang sudah terlalu sering ditunjukkan pada film, sesuatu yang klise. Hal-hal klise ini bisa saja memiliki arti pengurangan poin bagi mereka terhadap sebuah film. Kritikus yang sudah bosan dengan hal-hal klise, merasa haus untuk mengkritik hal-hal baru, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Kalau kamu ingin merasakan keletihan yang sama dengan kritikus, cobalah untuk keluar dari genre film yang menjadi favoritmu dan menonton lebih banyak film. Tidak terlalu saya sarankan, tapi silakan jika kamu ingin kehilangan selera. Referensi tontonan kritikus dengan orang biasa jelas berbeda. Sementara kita menonton film untuk menikmatinya dengan menciptakan selera sendiri, kritikus seolah meningkatkan rasa skeptisnya setiap saat.

Jadi tidak perlu heran mengapa rating penonton bisa saja berbanding terbalik dengan penilaian kritikus. Penonton memberi rating bagus karena mereka menyukainya, yang mana itu subjektif. Penonton lebih menekankan pada selera mereka. Jadi tergantung apakah film itu membuat mereka menikmatinya atau tidak. Apa yang dipuji-puji oleh kritikus bisa saja ternyata malah membuat penonton mengantuk. Atau sebaliknya, hal-hal yang dibenci oleh kritikus tidak membuat penonton peduli dan tetap memilih untuk menikmatinya. Ini yang akan terjadi jika terlalu mendasarkan penilaian menggunakan rating.

Setelah melihat fenomena ini bisa saya lebih menyarankan agar kamu tidak terlalu kaku terhadap rating. Pada dasarnya, film adalah seni. Sama seperti seni lain: musik, lukisan, sastra. Mereka punya segmen pasar tersendiri. Apa yang kita lihat sebagai film bagus belum tentu bagus menurut orang lain. Selama kita menikmatinya, kenapa tidak?

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here